Minggu, 22 September 2013

Pendekatan 4P pada Tokoh Kreatif

              LISA PULLANO

Person
Dengan pekerjaan sebagai make up artist, tidak heran Lisa memiliki kecenderungan yang kuat terhadap dunia kecantikan, kesehatan, dan seni.  Sebagai make up artist, maka akan diperlukan inovasi dalam pengayaan bidang kecantikan. Ditambah dengan keunikan serta ke-khasan dirinya yang sangat feminin, fashinable, Lisa sering mencoba hal-hal baru untuk menyempurnakan penampilannya, dan membaginya dengan dunia luar.
Pada mulanya, Lisa memiliki account youtube dengan display name Lisa Pullano, namun sekarang berubah menjadi Beauty Splurge. Hal ini mungkin juga sebagai inovasi agar melalui display name  nya, orang-orang bisa menebak isi dari account nya yang banyak mengenai kecantikan. Lisa juga ramah, dan sering membantu perempuan lain yang memiliki masalah dalam dunia kecantikan dan fashion, dengan cara memberikan banyak ide dalam video-video tutorial dan DIY (Do It Yourself). Dan dari hal tersebut dia menginspirasi banyak orang dari banyak belahan dunia.  Hal ini terbukti dengan jumlah subscriber nya yang mencapai 331.770 (pada tanggal 22 September 2013). Lisa termasuk perempuan yang kreatif, dimana kreatif menurut Munandar (2009) merupakan ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
 
Press
Bakat kreatif Lisa semakin tumbuh dengan lingkungan yang mendukung. Keluarga, pekerjaan, serta banyak masyarakat di seluruh dunia mendukung bakat dan kreatifitas  Lisa. Dukungan dari pihak, semakin memaksimalkan bakat dan kreatifitas Lisa. Pertanyaan yang muncul di antara subscriber  yang ingin mendapatkan solusi masalah yang berhubungan dengan kecantikan dan fashion yang pada akhirnya memunculkan banyak permintaan (request) video, malah membuat Lisa semakin termotivasi untuk menciptakan ide-ide baru yang inovatif dalam menciptakan atau memperbarui sebuah produk. Para haters yang dapat merusak kepercayaan diri-nya pun diabaikan saja olehnya. Karena tentu saja, ada lingkungan yang tidak menghargai imajinasi atau fantasi, dan ada pula lingkungan yang sangat mendukung hal tersebut.
Deskripsi di atas merupakan kategori kedua dalam pendekatan kreatifitas, yaitu “press”  atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif) maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis, Masyarakat juga lah yang dapat menentukan apa dan siapa yang dapat disebut kreatif (Munandar, 2009).

 

Process
Menurut Torrance (dalam Munandar, 2009), kreativitas pada dasarnya menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu
...the process of (1) sensing difficulties, problems, gaps in information, missing elements, something asked; (2) making a guesses and formulating hypothesis about these deficiencie; (3) evaluating and testing these guessess and hypotheses; (4) possibly reversing and retesting them; and finally;(5) communicating the result.”
Jika mengacu pada konsep Wallas (1926) mengenai proses kreatif yang terdiri dari persiapan, inkubasi, iluminasi dan verifikasi, maka beginilah kira-kira proses kreatif Lisa menciptakan sebuah produk:
1)    Persiapan, mengacu pada memilih pertanyaan subscriber atau memilih ide yang akan ditampilkan pada video, yang akan diunggah ke youtube. Dalam hal ini, Lisa memilih masalah mana yang akan dibahas atau diolah untuk dipecahkan. Kemudian berfikir untuk memecahkan masalah, dengan mencari banyak informasi.
2)  Tahap inkubasi, dalam hal ini Lisa seperti mengeram masalah untuk menggali nya lebih dalam lagi, dan memperhatika hal-hal detail, seperti bahan apa yang perlu ditambahkan, aroma apa yang akan dipilih sebagai komposisi. Dan tetap mencari dan berfikir mendalam mengenai hal yang akan dilakukan.
3)    Memasuki tahap iluminasi atau tahap timbulnya insight, disinilah muncul gagasan-gagasan baru berdasarkan hasil berfikir mendalam pada tahap-tahap sebelumnya. Dimana hal ini, Lisa melakukan inovasi terbaru yang sangat berbeda dan tidak biasa dari produk serupa. Misalnya saja pada rainbow body butter  yang sangat unik dan belum dipikirkan banyak orang. Karena kebanyakan tampilan body butter hanya polos dan biasa-biasa saja. Selain itu, produk yang dia ciptakan, terbuat dari bahan-bahan alami tanpa pengawet atau bahan kimia berbahaya lainnya.
4)      Di tahap verifikasi, Lisa tentu saja mencoba manfaat produknya terlebih dahulu sebelum disebar-luaskan ke banyak orang. Hal ini dilakukan untuk menguji produk tersebut terhadap realitas. 
          

Product
Barron (dalam Munandar, 2009) menyatakan bahwa produk kreatif merupakan hasil kreativitas, yaitu kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Lisa selain mampu membuat produk baru, dia juga mampu mendaur ulang atau menghias barang-barang yang sudah lama dan membosankan. Haefele (dalam Munandar, 2009) juga menegaskan bahwa tidak keseluruhan produk itu harus baru, tetapi kombinasinya. Lisa mampu membuat pelembab, masker, body butter, sabun, perhiasan, yang selain untuk digunakan sendiri, juga bisa menjadi peluang bisnis bagi banyak orang yang memanfaatkan idenya.
Kriteria untuk produk kreatif  menurut Rogers (dalam Vernon, 1982):
  • ·         Produk itu harus nyata (observable)
  • ·         Produk itu harus baru
  • ·         Produk itu adalah hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkungannya.


Berikut adalah beberapa video yang diunggah oleh Lisa Pullano. So inspired, isn't it? ><


Senin, 16 September 2013

Resume BAB 2 dari Buku Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat


BAB 2
PENDEKATAN 4P DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS

A.      Makna dari pengembangan kreativitas
            Pengembangan kreativitas sejak usia dini, sebab :   
  • Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan perwujudan aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia (Maslow, 1967).
  • Kratifitas atau berfikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah (Guilford, 1967).
  • Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat (bagi diri pribadi dan bagi lingkungan), tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu (biondi, 1972).
  •  Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.


B.      Teori 4P yang melandaasi pengembangan kreativitas
1.      Teori tentang pembentukan pribadi kreatif
a.      Teori Psikoanalisi
1). Teori Freud:
Kemampuan kreatif merupakan ciri kepribadian yang menetap pada lima tahun pertama kehidupan. Sigmund Freud (1856-1939) menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari kreativitas.
2). Teori Kris
Ernest Kris (1900-1957) menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan, jika perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan) juga sering muncul dalam tindakan kreatif.
3). Teori Jung
Carl Jung (1875-1961) juga mempercayai bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Dari ketidaksadaran kolektif ini, timbul penemuan, teori, seni, dan karya baru lainnya.

b.      Teori Humanistik
1). Teori Maslow
Menuru Abraham Maslow (1908-1970) pendukung utama dari teori humanistik, manusia memiliki naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Keempat kebutuhan pertama disebut deficiency, karena mungkin dapat dipuaskan sampai tidak dirasakan sebagai kebutuhan lagi. Dua kebutuhan pada pada tingkat tertinggi disebut dengan kebutuhan being.
2). Teori Rogers
Menurut Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi dari pribadi yang kreatif adalah:
-          Keterbukaan terhadap pengalaman
-      Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi sesorang (internal locus of evaluation)
-          Kemampuan untuk bereksperiman, untuk ‘bermain’ dengan konsep-konsep
         Ketiga ciri atau kondisi tersebut juga merupakan dorongan dari dalam untuk berkreasi (internal press).
Psikoanalis : Alam pikiran tidak sadar dan timbulnya kreativitas sebagai kompensasi dari masa anak-anak yang sulit dijelaskan.
Humanistis: menekankan kesehatan psikologis yang memungkinkan sesorang mengatasi masalah kehidupan.

c.       Ciri-ciri kepribadian kreatif
Thomas A. Edison “Genius is 1% inspiration and 99% perspiration”
-          Pribadi yang kreatif biasanya lebih terorganisasi dalam tindakan
-          Tingkat energi, spontanitas dan kepetualangan yang luar biasa
-          Mempunyai rasa humor yang tinggi.
-          Idealisme, kecenderungan untuk melakukan refleksi, merenungkan aturan.
-          Cepat menunjukkan perhatian pada masalah orang dewasa.
-          Minat seni dan keindahan lebih dari rata-rata
-     Bersifa tidak kooperatif, egosentris, terlalu asertif, kurang sopan, acuh tak acuh terhadap aturan, keras kepala.
-          Berani, ingin tahu, mandiri dalam berpikir dan mempertimbangkan , bersibuk diri terus menerus dengan kerjanya.

2.      Teori-teori tentang “press”
a.      Motivasi untuk kreativitas
Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreaativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkunganya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya
b.      Kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif
Menurut pengalaman Rogers dalam psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan timbulnya kreativitas yang konstruktif:
1.      Keamanan Psikologis. Tiga proses yang saling berhubungan
-          Menerima individu sebagaimana kelebihan dan keterbatasannya
-    Mengusahakan tidak adanya susasana evaluasi eksternal di dalamnya (mengurangi efek mengancam untuk dievaluasi).
-          Memberikan pengertian secara empatis.
2.      Kebebasan Psikologis
Jika orang tua atau guru memberikan kesempatan untuk bebas mengekspresikan pikiran atau perasaannya secara simbolis, pesmisiveness ini memberikan kebebasan berpikir atau sesuai dengan apa yang ada dalam diri anak.

3.      Teori tentang Proses Kreatif
a.      Teori Wallas
The art of Thought (Piirto, 1992), proses kreatif meliputi empat tahap :
1)    Persiapan : Mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya pada orang, dll.
2)       Mencari (inkubasi) : Tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, ia “mengeramnya” dalam alam pra-sadar.
3)          Iluminasi : Timbulnya “insight” atau “Aha-Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya gagasan baru.
4)             Verifikasi : Ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas.
b.      Teori tentang Belahan Otak kanan dan Kiri
-       Hampir setiap orang mempunyai sisi yang lebih dominan, maka dikatakan bahwa otak dikuasai oleh hemisfer yang bertentangan.
-          Dihipotesiskan bahwa otak kanan berkaitan dengan fungsi kreatif

4.      Teori tentang Produk Kreatif
Cropley (1994): Perilaku kreatif membutuhkan kombinasi antara ciri-ciri psikologis yang berinteraksi  sbb:
“hasil berpikir konvergen (memperoleh pengetahuan) -> tindakan (pemecahan masalah dalam arti luas) -> konfigurasi (model, tindakan)”
a.    Hukum Paten dalam Penilaian Produk Penemuan
Hukum paten AS mempertimbangakan unsur sbb dalam memberikan hak paten pada investor :
1)      Kegiatan intelektual yang bermutu mendahului penemuan/rekaan
2)      Gagasannya jelas dalam mengatasi masalah
3)  Jumlah eksperimentasi yang dilakukan sebelum mencapai produk baru dianggap penting.
4)      Sejauh mana mengalami kegagalan
5)      Produk harus berguna dan merupakan kemajuan
6)  Produk dinilai kreatif jika ada orang-orang dalam bidang kegiatan tersebut sebelumnya menunjukkan keraguan tentang kemungkinan penemuan yang baru.
7)      Produk harus memenuhi kebutuhan yang belum dipenuhi.

b.    Model dari Besemer dan Treffinger
Besemer dan Treffinger (1981) menyarankan bahwa produk kreatif dapat digolongkan dalam tiga kategori :
1)      Kebaruan (novelty): sejauh mana produk baru dalam hal, jumlah, teknik, dll
2)  Pemecahan (resolution): sejauh mana produk memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah.
Tiga kritera: Bermakna (valuable), logis, dan berguna.
3)    Kerincian (elaboration): Sejauh mana produk menggabung unsur yang tidak sama menjadi keseluruhan yang canggih.
Lima kriteria: organis, elegan, kompleks, dapat dipahami, menunjukan keterampilan yang baik.

c.     Model Penilaian Kreativitas dalam Mengarang
1)    Kelancaran: Jumlah kata yang digunakan dalam karangan tersebut.
2)   Kelenturan (fleksibilitas) dalam struktur kalimat dalam konten atau gagasan.
3)   Keaslian (orisinalitas) dalam konten dan gaya pemikiran
4)   Kerincian (elaborasi, kekayaan): membumbui cerita agar tampak kaya.


D. Strategi 4P Dalam  Pengembangan Kreativitas
1.      Pribadi
Pribadi yang unik diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk yang inovatif. Pendidik hendaknya dapat menghargai keunikan dan bakat siswanya.
2.      Pendorong (press)
Bakat akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu.
3.      Proses
Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, agar anak dapat mengekspresikan dirinya secara kreatif.
4.      Produk
Agar menciptakan produk kreatif tak terlepas dari kondisi pribadi dan lingkungan, sejauh mana press dalam proses kreatif.

E. Strategi 4P untuk Penelitian tentang Kreativitas
-          Dimensi 1: Empat aspek (Person, press, process, product)
-      Kerangka pengembangan dan penelitian untuk mengkaji empat perspektif dari kreativitas (5W dan 1H: “who, what, why, when, where, how)
-  Tiga lingkungan untuk penelitian dan pengembangan kreativitas (keluarga, sekolah, masyarakat).




Membangkitkan Kreativitas Di kelas Kreativitas


                Setelah minggu lalu cerita tentang kontrak kuliah, pada minggu ini, 12 september 2013 mulai lah perkuliahan kreativitas yang ditunggu tunggu *lebai*.
                Pada awal perkuliahan, Bu Dina menyuruh kami untuk duduk berjarak, harus spasi satu-satu, gak boleh deket-deket, sebelahnya dikosongin, nah gitulah pokonya. Terus Bu Dina membagikan bebrapa benda, dan kemudian ketengangan pun mulai muncul *dramatisir*.
Pertama yang diberikan Bu Dina adalah sebuah tissue. Jujur sebenarnya saya tertarik sekali dengan tissue ini. Belum pernah nemu tissue ada motifnya begini, warna nya cantik pula. Jika diperhatikan, tissue ini sudah dipotong dengan pola bagi dua. Entah mengapa saya langsung menciumnya, siapa tau tissue cantik ini ada wanginya, tapi ternyata gak ada :p
 Kemudian Bu dina memberikan sesuatu yang saya gak tau namanya apa ya. Bentuknya seperti dekorasi pada kertas undangan. Kertasnya tebal, berwarna hijau dengan motif emas di sekeliling tepinya. Bentuknya juga susah dijelaskan, tapi saya rasa benda ini sangat artistik. Entah mengapa pula, saya juga mencium kertas itu (terbayang kertas undangan yang ada wanginya). Tapi tetep gak ada wanginya ternyata :p
Selanjutnya Bu Dina memberikan kami dua lembar brosur. Kalau diperhatikan, ini sebenarnya hanya selembar brosur yang dibagi dua. Brosur ini bertuliskan “Layanan Bus Kampus”, dan di bagian belakang brosur terdapat gambar rute-rute perjalanan dan pemberhentian bus. Lagi-lagi saya mencium kertas brosur ini. Saya melihat tekstur kertas yang licin, mengingatkan saya pada kertas majalah. Biasanya kalau majalah yang baru saya beli, mengeluarkan bau-bau khas percetakan. Dan kali ini, memang brosur ini mengandung bau serupa. Yes, kali ini wanginya ada :P
Yang terakhir, Bu Dina memberikan kami seperangkat cover dan back cover kertas jeruk (punya saya warna hijau), beserta plastik mika dan lengkap dengan lakban hitamnya. “Ini sih biasanya peralatan tempur kalo mau jilid makalah” pikir saya.  Nah dengan lengkapnya peralatan yang sudah diberikan, maka mulai lah instruksi selanjutnya. Instruksinya saya sih gak hapal, tapi kira-kira begini...
“itu benda-benda yang saya bagikan, terserah mau diapain, mau dibuat apa. Waktunya 30 menit”. Terus saya tanya “kalo digunting boleh Bu?”. Bu Dina bilang “Terserah kamu”.
Tak lama saya mulai menyobek kertas jeruk dengan menggunakan KTM, diikuti ucapan Bu Dina “Tapi kalo udah dirobek, gak boleh minta ganti ya..”. Wahaha, saya agak panik tapi sih yakin aja. Rencananya kepengen bikin explossion box, tapi ketika saya melihat perkakas yang saya bawa Cuma pulpen semata wayang, saya jelas kekurangan alat -__-
Lalu saya memutuskan membuat frame foto saja. Piguranya dari kertas jeruk, hiasannya dari pita di sekeliling tissue, kaca frame saya gunakan dari plastik mika, dan dekorasi lain saya tambahkan dari motif-motif yang terdapat pada tissue (bunga, balon). Perekatnya saya gunakan tipe-x yang saya pinjem dari belakang. Saat-saat terakhir saya berkesempatan meminjam gunting dan hekter (steaples). Terakhir saya ngulik brosur yang belum sempat terpakai, akhirnya saya gunakan sebagai pengganti foto di dalam pigura yang sudah jadi. Dan juga menambahkan potongan kertas mirip undangan tadi di bagian atas pigura sebagai hiasan saja hehe. Nah ini lah kreasi sayaaa, PIGURA 30 MENIT KURANG BAHAN....
Menurut saya, kelas seperti ini menarik. Saya sangat suka craft dan seni, jadi mengisi kelas dengan kegiatan ini sangat menarik menurut saya >,<. Jika ditinjau dari konsep kreativitas yang dianut dalam perkuliahan, saya rasa kegiatan ini merupakan ‘pemanasan’ untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kreativitas, ide, yang tentunya berbeda setiap orang. Terbukti dengan tidak adanya hasil karya yang sama dari setiap siswa.
Nah jika ditinjau lagi dari konsep 4P seperti yang sudah dibahas pada resume bab 1 saya di bawah postingan ini, ide yang muncul pada saat menciptakan sesuatu atau memunculkan kreativitas,merupakan perbedaan kepribadian pada setiap individu. Tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya (Hulbeck, 1945). Ini termasuk pada poin person di pendekatan 4P.
Press muncul karena adanya instruksi dari Bu Dina. Dorongan juga semakin muncul ketika mengetahui bahwa tugas ini memiliki batas waktu (time limit), jadi walaupun saya merasa pesimis karena kekurangan faktor penunjang yang termasuk masalah sosial (tidak tersedianya gunting, lem, penggaris), saya tetap berusaha mengerahkan kemampuan saya yang terbaik. Dimana Press” merupakan dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk menciptakan atau bersibuk diri maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.
Seluruh proses kreatif dan ilmiah mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil disebut Torrance (1988) sebagai process. Dalam hal ini, proses pengerjaan saya dari awal hingga menjadi sebuah hasil atau sesuatu yang baru. Barron (1969) menyatakan bahwa product merupakan kemampuan menciptakan sesuatu yang baru.  Dalam hal ini, product saya adalah pigura foto J
Melihat hasil karya teman-teman lain, dan semuanya berhasil menciptakan sebuah product, berarti semua manusia memiliki kreativitas, namun mungkin saja kadarnya berbeda-beda setiap orang. Dan ide serta kreativitas setiap orang pasti sangatlah berbeda J
J SALAM KREATIF J


Selasa, 10 September 2013

Resume BAB I dari Buku Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat


BAB I
DASAR PERTIMABANGAN, KEBIJAKAN, DAN KONSEP KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS
A.     Pengantar
-          Pengembangan kreativitas
-          Dasar pertimbangan untuk pendidikan anak berbakat
-          Perumusan kebijakan mengenai pelayanan pendidikan anak berbakat dan pengembangan kreativitas
-          Konsep keberbakatan dan konsep kreativitas pada 4P (Pribadi, Pendorong, Proses, dan Produk)

B.      Dasar Pertimbangan Untuk Pengembangan Kreativitas
1.      Hakikat Pendidikan
  • -     Pendidikan sangat menentukan perkembangan dan peranan pada individu, juga sebuah kemajuan bangsa. Kemajuan suatu kebudayaan bergantung bagaimana cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai, dan memanfaatkan SDM, yang berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang akan diberikan kepada masyarakatnya.
  • -        Tujuan pendidikan pada umumnya untuk mengembangkan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat berfungsi sepenuhnya.
  • -     Setiap orang memiliki bakat dan kemampuan berbeda, oleh karena itu dibutuhkan pendidikan yang berbeda pula.
  • -   Pendidikan bertanggung jawab untuk memandu (mengidentifikasi dan membina), serta memupuk (mengembangkan dan meningkatkan) bakat, termasuk yang berbakat istimewa (gifted), dan kecerdasan luar biasa (talented).
  • -          Dulu orang biasanya mengartikan kecerdasan ketika memiliki IQ tinggi, namun sekarang bukan hanya intelegensi yang menentukan keterbakatan, melainkan juga kreativitas dan motivasi berprestasi (Renzulli, 1981)
  • -     Kreativitas atau daya cipta memungkinkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu teknologi, serta dalam bidang usaha manusia.


2.      Kebutuhan akan Kreativitas
Ditinjau dari aspek manapun, kebutuhan akan kreatifitas sangatlah terasa. Perpanjangan waktu luang memerlukan penyaluran energi ke usaha atau kegiatan kreatif. Namun kebanyakan orang cenderung mengikuti hiburan secara pasif atau melakukan kegiatan kelompok yang sudah ditentukan aturan mainnya. Bahkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga, tampak kecenderungan bahwa perilaku orisinal yang “lain daripada yang lain” dirasakan sebagai sesuatu yan aneh bahkan berbahaya (Rogers, dalam Vernon 1982). Padahal dalam kehidupan sehari-hari kita dituntut untuk adaptasi secara kreatif dan memecahkan masalah secara imajinatif.
Dalam bidang pendidikan pun demikian. Lebih menekankan pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar terhadap soal yang diberikan. Proses pemikiran tinggi, termasuk pemikiran tinggi jarang dilatih.
Guilford (1950) menyatakan
“Keluhan yang paling banyak saya dengar mengenai kelulusan perguruan tinggi kita ialah bahwa mereka cukup mampu melakukan tugas yang diberikan dengan menguasai teknik-teknik yang diajarkan, namun mereka tidak berdaya jika dituntut memecahkan masalah yang memerlukan cara-cara yang baru”
Padahal banyak departemen pemerintah mencari orang yang memiliki potensi kreatif-inventif.

3.      Kendala dalam Pengembangan Kreativitas
Kendala konseptual yang pertama tentang kreatifitas merupakan sifat yang diwarisi oleh orang yang sangat berbakat/genius. Sehingga diasusmsikan sebagai sesuatu yang dimiliki, atau tidak dimiliki.
Yang kedua, alat ukur yang umumnya dipakai oleh sekolah merupakan tes intelegensi tradisional. Kebanyakan hanya meliputi tugas-tugas mencari satu jawaban yang benar (berpikir konvergen) kemampuan berpikir divergen dan kreatif, yaitu menjajaki kemungkinan jawaban atas suatu masalah jarang diukur.
Sebab lain dari kurangnya dunia pendidikan dan psikologi terhadap kreativitas ialah kesulitan merumuskan konsep kreativitas itu sendiri.
Selanjutnya adalah metodologis. Tuntutan alat ukur yang cenderung mengukur kemampuan konvergen. Sehingga mengalihkan perhatian untuk mengukur kemampuan divergen. Manakala ada kemungkinan subjektivitas dalam scoring.
Yang terakhir, proses pemikiran yang tinggi (kreatif) kurang dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep stimulus-respon.

4.      Hubungan kreativitas – Intelegensi
Kemampuan berpikir konvergen mendasari tes intelegensi tradisional, dan kemampuan berpikir divergen merupakan indikator dari kreativitas.
Utami Munandar (1977)
“berpikir divergen (kreativitas) menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen (intelegensi).

5.      Peran Intelegensi Dan Kreativitas Terhadap Prestasi Sekolah
-  Torrance (1959): Daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan originalitas dari subjek yang kreativitasnya tinggi, dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan dan faktor lain yang diukur oleh tes intelegensi tradisional.
-       Utami Munandar (1977): kreativitas sama absahnya seperti intelegensi, sebagai prediktor dari prestasi sekolah. Jika efek intelegensi dieliminasi, hubungan antara kreativitas dan prestasi sekolah tetap substansial.
-       Milgram (1990): IQ semata-mata tidak dapat meramalkan kreativitas dalma kehidupan nyata.
-       Cropley (1994): True Giftedness = kemampuan konversional + kemampuan kreatif
-     Hofstee (1969): Tes (kreativitas, intelegensi, ingatan) + kriteria (prestasi sekolah) -> Informasi mengenai kualitas dari sistem pendidikannya.

6.      Sikap Kreatif sebagai Non-Aptitude Trait dari Kreativitas
-        Studi Roe, Mac Kinnon, dan Cattel : Profil kepribadian dari tokoh-tokoh yang unggul kreatif, berbeda dengan profil kepribadian orang rata-rata.
-          Guilford membedakan aptitude dan non-aptitude traits.
Aptitude: Berpikir kreatif, meliputi kelancaran, kelenturan, orisinalitas berfikir, cenderung dioperasionalisasikan dalam tes berfikir divergen
Non-aptitude: Afektif, kepercayaan diri, keuletan, kemandirian
-          Giftedness = Intelegensi + Kreativitas + Task Commitment (motivasi)

7.      Sikap Guru dan Orang Tua mengenai Kreativitas
-      Guru dan Orang Tua, kedua lingkungan pendidikan ini dapat berfungsi sebagai pendorong (press) dalam pengembangan kreativitas anak.
-      Yang dapat dilakukan pendidik adalah mengembangkan sikap dan kemampuan anak didik untuk menghadapi persolan masa mendatang secara kreatif.
-          Parnes (1963): Kita menerima banyak instruksi bagaimana melakukan sesuatu di sekolah, di rumah. Sehingga kita kehilangan kesempatan untuk kreatif.
-          Jika seseorang mengenali potensi kreativitas nya, maka ia dapat mencapai aktualisasi diri.
-    Cara mengajar untuk mengembangkan kreativitas: suasana non-otoriter -> guru menaruh kepercayaan -> anak mampu berpikir dan mengemukakan gagasan baru -> anak bekerja sesuai dengan minat.
-          Namun sayangnya :
·         Guru lebih menyukai siswa dengan kecerdasan tinggi daripada yang kreatif (Getzels dan Jackson, 1962)
·     Persepsi guru terhadap ‘murid ideal’, sedikit persamaannya dengan perilaku yang ditemukan pada pribadi kreatif (Bachtold (1974), Munandar, 1977).
-          Dasar pertimbangan yang berkaitan dengan pengembangan kreativitas anak:
·           Kurangnya pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakat
·           Dituntutnya pengembangan kreativitas sebagai salah satu faktor utama
·         Adanya kesenjangan antara kebutuhan akan kreativitas dan perwujudannya dalam masyarakat
·           Sekolah lebih berorientasi pada pengembangan intelegensi daripada kreativitas
·           Pendidik dan orang tua masih kurang memahami arti kreativitas
·           Banyak kendala lain secara makro dan mikro

C.      Dasar Pertimbangan Untuk Pendidikan Anak Berbakat
Banyak kesalahan pendapat bahwa jika anak betul-betul berbakat, ia akan dapat memenuhi kebutuhan pendidikannya sendiri. Dengan timbulnya masalah ini, pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakaat diperlukan, karena :
-          Anak berbakat memerlukan program yang sesuai dengan tahap perkembangannya
-      Tanggung jawab pendidikan untuk memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi mereka yang memiliki kemampuan unggul.
-       Jika anak berbakat dibatasi, mereka akan cepat bosan, jengkel, atau acuh tak acuh. Sehingga anak berbakat menjadi underachiever.
-      Mengenai kekhawatiran kelompok ‘elite’, apabila dengan elite dimaksudkan dengan golongan atas, maka ditinjau dari keunggulan bakat dan kemampuan, mereka memang tergolong elite.
-   Anak dan remaja merasa bahwa minat dan gagasan mereka berbeda dengan yang lain, sehingga merasa terisolasi.
-   Jika dirancang program kebutuhan dari awal, akan menumbuhkan peningkatan prestasi, kompetensi, dan harga diri.
-          Akan memberi sumbangan yang bermakna bagi masyarakat dan manusia lain.
-     Dari sejarah tokoh, beberapa dari mereka tidak menonjol dalam prestasi sekolah, namun berhasil dalam hidup.

D.     Kebijakan
1.      Kebijakan tentang Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat
-          UUD 1989, Pasal 8, ayat 2: “Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.”
-    Pendidikan khusus terhadap anak berbakat dengan program pengayaan (enrichment), percepatan (acceleration), ataupun kombinasi keduanya.
-      UUD 1945, Bab IV “Peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa perlu mendapat perhatian lebih khusus agar dapat dipicu perkembangan prestasi dan bakatnya.”

2.      Kebijakan tentang Pengembangan Kreativitas
-        GBHN 1993: “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, tangguh, cerdas, kreatif, disiplin, bertanggung jawab, serta sehat jasmani dan rohani.”
-      GBHN 1993: “Pengemban kreativitas (daya cipta) hendaknya dimulai pada usia dini, yaitu keluarga dan pra-sekolah”

3.      Peranan Kreativitas dalam Program Pendidikan Anak Berbakat
-     Meningkatkan kreativitas merupakan bagian integral dari kebanyakan program untuk anak berbakat. Dimana kreativitas biasanya disebut dengan prioritas.
-        Perhatian perlu diberikan bagaimana kreativitas itu dapat dikaitkan dengan semua kegiatan di dalam kelas dan setiap saat (De Bono).

E.      Konsep Kreativitas
1.      Kreativitas dan Aktualisasi Diri
-    Abraham Maslow dan Carl Rogers : Apabila sesorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi – mengaktualisasikan atau mewujudkan potensinya -> Aktualisasi Diri
-    Rogers (1962): Sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme.
-     Damn (1970): Baik kreativitas maupun intelegensi, berkorelasi dengan aktualisasi diri, dan tingkat aktualisasi diri yang tertinggi dicapai oleh siswa sekolah menengah yang sama-sama kreatif dan inteligen.
-          Maslow membedakan :
·         Kreativitas Talenta Khusus: Memiliki bakat atau talenta kreatif yang luar biasa dalam bidang seni, sastra, musik, teater, dan lainnya. Orang ini bisa saja menunjukkan penyesuaian serta aktualisasi diri yang baik, tapi mungkin juga tidak.
·  Kreativitas Aktualisasi Diri: Sehat mental, hidup sepenuhnya, dan produktif, menghadapi semua aspek kehidupannya secara fleksibel dan kreatif. Tapi belum tentu memiliki talenta kreatif yang menonjol.

2.      Konsep Kreativitas Dengan Pendekatan Empat P
-   Pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah “Four P’s of Creativity: Person, process, press, product” (Rhodes)
-          Keempat P ini saling berkaitan: Pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif, dan dengan dukungan dan dorongan (press) dari lingkungan menghasilkan produk kreatif
a.      Person
-      Tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya (Hulbeck, 1945).
-      Three Facet Model of Creativity (Sternberg, 1988): Kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis, yaitu intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi.
-     Gaya kognitif dari pribadi yang kreatif menunjukkan kelonggaran dari keterikatan pada konvensi, menciptakan aturan sendiri, melakukan hal denga caranya sendiri, menyukai masalah yang tidak terlalu terstruktur, senang menulis, merancang, lebih tertarik pada pekerjaan yang kreatif, seperti pengarang, saintis, arsitek.
b.      Process
-     Torrance (1988) definisi Torrance ini meliputi seluruh proses kreatif dan ilmiah mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil.
c.       Product
-          Barron (1969): Kemampuan menciptakan sesuatub yang baru
-          Kriteria untuk produk kreatif  menurut Rogers (dalam Vernon, 1982):
·         Produk itu harus nyata (observable)
·         Produk itu harus baru
·        Produk itu adalah hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkunganya.

d.      Press
Press” merupakan dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk menciptakan atau bersibuk diri maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.

F.       Konsep Anak Berbakat Dan Keterbakatan (Giftedness)
Terman yang menggunakan intelegensi sebagai kriteria tunggal untuk mengidentifikasikan anak berbakat yaitu, IQ 140.
1.      Definisi USOES Tentang Keberbakatan
Disepakati dalam seminar nasional mengenai Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat yang diselanggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan:
“Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemapmpuan yang unggul. Kemampuan-kemampuan tersebut, baik secara potensial maupun nyata, meliputi:
-          Kemampuan intelektual umum
-          Kemampuan akademik khusus
-          Kemampuan berpikir kreatif-produktif
-          Kemampuan dalam salah satu bidang seni
-          Kemampuan psikomotor (seperti dalam olahraga)”
Namun pada tahun 1978 di Amerika Serikat kemampuan psikomotor dihapuskan, karengan pertimbangan sudah cukup mendapat perhatian dan terlayani.

2.      Konsepsi Renzuli Tentang Keberbakatan
-       “Three-Ring Conception” dari Rezulli dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriterian (persyaratan keberbakatan ialah keterkaitan antara:
·           Kemampuan umum di atas rata-rata
·           Kreativitas di atas rata-rata, dan
·           Pengikatan diri terhadap tugas (Task commitmen cukup tinggi)

-         Suatu definisi merupakan pernyataan yang diungkapkan secara eksplisit, dan menjadi bagian dari kebijakan dan bahkan juga dari perantauan. Oleh karena itu adalah penting bahwa suatu definisi mengetahui tiga kriteria berbakat, yakni :
·         Harus berdasarkan riset tentang karakteristik orang berbakat
·     Memberikan arah dalam seleksi dan/atau pengembangan instrumen dan prosedur identifikasi
·      Memberikan arah dan berkaitan dengan praktek program, seperti seleksi mencari dan metode instruksi serta seleksi dan pelatihan guru anak berbakat.

Setiap dari ketiga kelompok ciri-ciri itu sama-sama menentukan keberbakatan. Berikut akan dibahas masing-masing “cluster” ciri-ciri tersebut.
a.      Kemampuan Di Atas Rata-Rata (Intelegensi)
-       Intelegensi tidak sinonim dengan keberbakatan (Terman, 1959)
-       Mencapai skor tinggi dalam tes akademis belum tentu menentukan potensi kreatif (Wallach, 1976).
b.      Kreatifitas
Kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
c.       Pengikatan Diri Terhadap Tugas
-  Peningkatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam-macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhdap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
-       Subjek yang kreatif dapat bertahan terhadap tekanan sosial karena orientasi yang lebih kuat pada tuntutan tugas.
-  Renzulli (1981) memberikan kritik terhdap definisi USOE bahwa definisi tersebut mengabaikan motivasi atau task commitmen sebagai ciri afeksi yang penting pada orang berbakat.
-    Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan, kemampuan umum, kreatifitas dan motivasi.


Yulli Miata Fanny
09 - 001