Selasa, 15 Oktober 2013

Analisis Diri menggunakan Teori Peranan Keluarga, Sekolah, dan Lingkungan


Saya adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga saya. Saya punya 1 abang, dan 2 adik. Ayah saya berprofesi sebagai dosen, dan guru SLB. Ibu saya merupakan seorang konselor HIV/AIDS di Klinik Kartika Rumkit Kesdam Medan. Menurut saya, keluarga saya cukup serius, namun ada momen dimana kami tertawa bersama. Kamipun dapat terlihat sangat kompak di beberapa foto. Ayah saya, yang sangat humoris, jenaka, dan tidak pernah marah. Ibu saya yang galak, namun sangat polos. Abang saya yang tingkahnya kekanakan namun lucu dan sering menciptakan panggilan aneh. Kami memanggilnya ‘Petong’. Kedua adik saya pun sangat ceria dan humoris. Munandar (2009:80) menyatakan bahwa bercanda, berolok-olok, dan berbagi lelucon sering terjadi pada keluarga kreatif. Dimana faktor humor merupakan salah satu karakteristik keluarga kreatif.

Saya sendiri sangat menyukai dunia seni, terutama seni figural, juga seni musik. Pada saat saya duduk di SD, saya sangat suka menggambar, terutama gambar-gambar manga (komik). Saya suka mencoreti belakang buku saya, bahkan saya juga memanfaatkan jatah buku baru yang diberikan oleh orang tua saya, untuk saya jadikan sebuah buku komik. Banyak teman sekelas saya yang meminjam komik buatan saya untuk dibaca. Rasanya sangat puas dan senang ketika mereka menyampaikan pujian mengenai gambar dan cerita di komik ciptaan saya. Saya juga memiliki teman sekelas yang suka menggambar komik, dan kami juga saling mendukung satu sama lain, sehingga ini meningkatkan press dalam diri saya. Di usia ini, saya juga sering dibelikan ayah saya majalah Bobo setiap minggunya. Ketika orang tua saya melihat coretan gambar di buku pelajaran saya, mereka menegur saya agar tidak membuang-buang halaman, dan menyianyiakan buku baru untuk dijadikan sebagai komik. Namun teguran mereka hanya di awal saja, karena setelah itu mereka membiarkan saya. Mengenai jenis kreativitas yang saya minati menurut konten struktur intelek Guilford (dalam Munandar, 2009), ialah bidang kreativitas figural, yaitu seni pahat/ukir, arsitektur.
Beranjak SMP, saya masih suka menggambar komik, dan juga mulai membaca majalah-majalah remaja, pada saat itu majalah Kawanku dan Gadis. Saya sangat menyukai rubrik kreatif yang mengajarkan bagaimana membuat aksesoris, mendaur ulang pakaian, atau dekorasi ruangan. Dari sini saya mulai bersahabat dengan gunting, jarum, benang, dan perkakas jahit lainnya untuk membuat aksesoris. Akses ini juga dipermudah dengan tersedianya peralatan jahit yang cukup lengkap yang dimiliki ibu saya. Walaupun beliau tidak terlalu sering menjahit, namun peralatan menjahitnya sangat lengkap. Saya pun diajari bermacam teknik menjahit, seperti jelujur, tusuk feston, dll. Saya juga dapat menangkap hal itu dengan cepat. Hal ini juga didukung oleh Munandar (2009) yang menyatakan bahwa sejauh mana orangtua mampu menyediakan fasilitas, menunjukkan hubungan yang positif dengan kinerja anak.
Di usia ini pun, saya mulai bersahabat dengan radio dan sering mendengarkan musik. Musik favorit saya adalah sejenis musik rock yang keras dan bersemangat. Orang tua saya memberikan saya kamar pribadi yang disertai satu unit radio yang selalu saya dengarkan setiap waktu. Saya sangat sering menghabiskan waktu di kamar, bahkan ibu saya menyebut saya ‘bertelor’ :P. Kamar ini saya cat sendiri walaupun berantakan. Kamar ini pun mendukung segala minat saya. Saya sering menggambar di dinding dengan cat glassdeco (cat untuk permukaan licin), menempelkan stiker glow in the dark, menempelkan poster pemain bola, dll. Orang tua saya sempat protes dengan kegiatan saya, namun akhirnya mereka pun membiarkan saya. Karakteristik dalam keluarga saya, dimana kebebasan yang diberikan secara leluasa, dalam artian tidak banyak menentukan aturan perilaku dalam keluarga (dalam Munandar:79, 2009), juga turut mendukung minat saya.
SMA, saya tergila-gila dengan musik post-hardcore dan gaya ala scene girls. Gaya ini identik dengan rambut kembang dan jepitan pita warna warni. Nah mulai lagi eksperimen saya untuk membuat sendiri jepitan dan bando saya. Ibu saya turut serta dalam membantu saya membeli beraneka ragam pita, manik aksesoris, jepitan, bando, dll. Saya juga banyak belajar dan mencari info lewat youtube. Saya juga bergabung dengan sebuah band beraliran post-hardcore/metal-core. Dengan dandanan seperti ini, ibu saya sangat sering mengeluh. Kadang meminta persetujuan pada ayah saya agar saya mau berhenti bergaya ala scene girls, namun saya ingat apa ucapan ayah saya: “Biarkan saja, namanya juga anak band” hahahahha :P. Dan akhirnya peranan faktor lingkungan, yaitu cara asuh dan iklim keluarga (dalam Munandar:79, 2009) sangat membantu saya mengembangkan minat saya.

Saya sebenarnya tidak ingin kuliah psikologi, karena kedua orang tua saya juga seorang psikolog. Saya lebih tertarik dengan arsitektur ataupun design interior, namun orangtua saya tidak mengizinkan saya kuliah di luar kota. Memasuki bangku kuliah, saya mulai mengurangi dandanan scene girls ini, karena sangat menonjol dan terkesan berantakan jika berada di lingkungan perkuliahan. Saya hanya berdandan jika ada acara konser, atau acara diluar kampus. Majalah yang saya baca semakin dewasa, seperti go girl, cosmo girl, dll. Majalah ini memberikan proyek craft yang lebih menantang lagi. Dan saya sangat menyukainya. Saya juga semakin bersahabat dengan youtube, yang sangat banyak menyumbangkan ide dan pengetahuan yang sangat luas. Kegiatan kampus yang sangat padat memaksa saya menghentikan beberapa ide saya, salah satunya band.  Namun saya semakin tergila-gila dengan craft dan art. Pengalaman dan pengetahuan sebelumnya memberikan banyak kesempatan. Saya pun memiliki harapan untuk dapat memasarkan aksesoris buatan saya kelak. Dan berharap mampu memperoleh pendidikan di dunia arsitektur ataupun design interior yang memang sangat saya minati.
Orangtua saya cukup mendukung segala kegiatan saya dan apapun pilihan serta minat saya. Walaupun pada awalnya mereka sempat mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap pilihan ataupun kegiatan saya, namun pada akhirnya mereka melepaskan saya dengan pilihan saya. Menurut Munandar (2009). Orang tua harus melatih keterampilan anak dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan minatnya. Hal ini juga didukung oleh motivasi intrinsik (press) yang kuat dari dalam diri saya. Dimana dengan melakukan minat saya, saya memperoleh kepuasan yang tinggi. Walaupun pada kenyataannya, kedua orang tua saya jarang merespon (feedback) karya saya, namun itu bukanlah hal yang penting untuk saya. Jumlah perhatian yang diberikan oleh orangtua saya, agak minim. Kami pun diberi kebebasan dan aturan yang cukup. Kedekatan emosional terhadap orangtua juga tergolong sedang. Karakteristik ini seperti diungkapkan Amabile (dalam Munandar:92, 2009).  Lingkungan sekitar (teman) yang memberikan dukungan yang positif pada saya, semakin menumbuhkan rasa percaya diri saya.
Dari pola asuh kedua orangtua saya ini, saya juga merasa mudah bergaul dengan orang lain, dimana ciri ini merupakan salah satu karakteristik keluarga kreatif menurut Munandar (2009:80). Saya juga mempelajari hal ini dari ibu saya. Karakteristik lain yang dihubungkan dengan kondisi rumah kami (poin ke 7:81), sebenarnya tidak terlalu menonjol. Ibu saya punya kebiasaan mengoleksi perangkat makan, seprei, gorden, yang jumlahnya sangat luar biasa menurut saya, hampir 4 lemari jika ditotal. Ibu saya juga sangat suka mengoleksi banyak pakaian, dan tas beraneka warna. Bahkan ibu saya memiliki 1 kamar yang hanya berisi koleksi pakaian dan tas nya. Saya rasa, dia sangat suka keindahan dan warna yang matching. Ini termasuk dalam karakteristik gaya hidup orang tua (Munandar, 2009:81).
Saya merasa saya dibesarkan dalam keluarga yang cukup kreatif. Hal ini terjadi menurut Vernon (dalam Munandar, 2009: 85) karena kretivitas dapat berkembang dalam suasana non otoriter, yang memungkinkan individu untuk berfikir dan menyatakan diri secara bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar